Gunung Andong, Sebuah Gunung Kecil di Magelang

Berminat kegiatan mendaki gunung tapi Anda belum yakin dengan fisik anda? Gunung Andong adalah jawabannya.
Dengan ketinggian "hanya" 1.726 mdpl sangat cocok bagi pemula, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam dari basecamp menuju puncak. Gunung yang cocok untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa, sampai ibu-ibu. Bahkan barengan saya sepasang suami istri paruh baya mengajak dua cucunya, wow!

Gunung Andong terlihat dari basecamp Sawit

Lokasi

Secara administratif Gunung Andong terletak di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Ngablak, Tlogorejo, dan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Lokasi Gunung Andong

Jalur Pendakian

Setidaknya ada 3 jalur pendakian resmi dan beberapa jalur pendakian baru yang belum tercatat. 3 jalur resmi ini diantaranya Jalur Sawit, Jalur Gogik, dan Jalur Kembangan. Tetapi jalur utama dan merupakan jalur yang sering di gunakan oleh para pendaki yaitu Jalur Sawit, jalur yang juga penulis dan rombongan lalui.
Basecamp Sawit
Pendakian dimulai dengan berjalan ke arah barat dari basecamp Sawit menyusuri jalan beton menurun. Sesampai dipertigaan jalan, jalan beton yang semula turun akan menjadi datar dan terbagi menjadi dua. Ke kiri ke arah bumi perkemahan Mangli dan ke kanan arah pendakian Gunung Andong. Di kiri dan kanan sepanjang jalan ini adalah ladang penduduk yang ditanami sayuran, anda bisa melihat aktivitas warga setempat tengah menggarap ladang.
Setelah berjalan ke kanan sejauh dari pertigaan jalan, Anda akan menemui sebuah gapura berwarna hitam dan emas. Gapura ini terletak disamping sebuah warung, di sinilah Anda harus belok ke kiri melewati gapura ini untuk menuju puncak Andong. Jalan beton pun berganti menjadi jalan setapak selepas gapura ini. Terus ikuti jalan setapak ini, berjalan sekitar 200 meter dari gapura ini Anda sampai di batas antara ladang penduduk dan hutan.

Setelah berjalan 150 meter dari batas hutan dan ladang penduduk, berikutnya Anda akan sampai di hutan cemara setelah menjumpai 2 tikungan. Jalan setapak seperti terbagi ke berbagai arah sehingga cukup membingungkan siapa pun. Saran saya tetap ikuti jalur utama yang memiliki jalan yang cukup lebar. Kondisi jalur yang cukup menanjak tajam dan cukup licin karena kerikil yang cukup banyak di area ini.

Pos I (Gili Cino)

Pos I (Gili Cino) sumber gambar
Dari Gili Cino jalur masih menanjak dan berdebu. Pepohonan mulai berkurang sehingga bila siang panas pun terasa menyengat. 200 meter kemudian anda akan menjumpai sebuah batu besar di sisi jalur. Tempat ini sering disebut sebagai Watu Gambir. Merupakan pos bayangan dan berada di salah satu puncak bukit. Di tempat ini juga tersedia sedikit tempat datar untuk mendirikan tenda.

Selepas Watu Gambir vegetasi mulai terbuka. Jalan setapak yang awalnya melewati tangah lembah beralih ke punggungan bukit. Jalan setapak akan lewat di kemiringan bukit sehingga di satu sisi jalan adalah dinding tebing dan di sisi jalan yang satunya adalah jurang. Jalan setapak pun berganti dengan jalan berbatu dengan lebar sekitar setengah meter. Batu yang ada dijalan ini seolah telah ditata dan membentuk undak-undakan. Sekitar 100 meter dari Watu Gambir anda akan menjumpai mata air yang telah di salurkan melalui pipa kecil. Sumber air ini merupakan sumber air satu-satunya yang terdekat dari puncak. Di sinilah anda harus mengisi logistik air jika anda berniat untuk memasak di puncak.

Pos II (Watu Wayang)

Setelah sumber air, jalan masih menanjak tiada habisnya. Sekitar 100 meter dari sumber air, andapun akan sampai di Pos 2 Watu Wayang. Karena letak pos ini berada di kemiringan bukit, Tak ada tempat datar untuk mendirikan tenda pos ini. Dan karena pos ini berada di tikungan dan salah satu puncak bukit pos ini menyajikan pemandangan yang cukup indah. Pos ini pun dinamakan Watu Wayang karena di pos ini terdapat sebuah batu dengan gambar seorang tokoh wayang di atasnya. Namun sayangnya gambar wayang ini mulai tak terlihat tertutup oleh coretan-coretan pendaki nakal. Sangat disayangkan memang masih ada saja pengunjung gunung ini yang berulah merusak alam.
Pos II (Watu Wayang)
Sekitar 300 meter lebih dari pos II Anda akan sampai di pertigaan jalur, jalur ke kiri menuju ke Puncak Makam dan jalur ke kanan menuju puncak Andong dan Puncak Alap-alap. Di puncak ini terdapat sebuah makam seorang penyebar agama islam bernama Syeh Abdulloh Fakil atau lebih dikenal dengan nama Mbah kyai Jaka Pekik.
Dari puncak Andong menuju puncak Alap-Alap, Anda akan melewati jalur paling berbahaya di gunung ini, biasa disebut jalur Geger Sapi (dalam bahasa Jawa, geger berarti punggung). Butuh keberanian dan kewaspadaan tingkat tinggi melewati jalur ini, hanya mempunyai lebar kurang dari setengah meter dan kanan-kiri jurang yang dalam tanpa pembatas, harus ekstra hati-hati!
Puncak Andong

Jalur yang sangat sempit

Bentuknya yang menyerupai punggung sapi, jalur ini dinamakan Geger Sapi

Salam Lestari!

Galeri Foto

Menanti sunrise

Desa di daerah Magelang tampak dari puncak Andong

Bersama teman-teman dari Milanisti Soloraya

Suasana yang ramai mirip pasar

Jangan lupa bawa turun kembali mantan sampah

Mencari inspirasi buat lagu terbaru

Selamat makan!

Banyak mantan sampah berserakan

Yang pegang banner itu mentor saya

Turun gunung
Dirangkum dari beberapa sumber, special thanks to: https://gpswisataindonesia.blogspot.co.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gunung Andong, Sebuah Gunung Kecil di Magelang"

Posting Komentar