Catatan Perjalanan PO Haryanto 100 (HR100) Solo-Jakarta (Tanjung Priok)

Akhir tahun 2017 saya berencana melakukan kegiatan yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun yang lalu merayakan akhir tahun dengan cara yang biasa saja, di sekitar kota Solo melihat pesta kembang api. Kali ini acaranya bis-bisan.

Awalnya saya berfikir untuk sekedar tek-tok, yaitu perjalanan naik bis ketika sampai di tujuan langsung balik lagi ke Solo. Tapi rencana ini batal, karena setelah saya pertimbangkan, akan sangat melelahkan dan membosankan, lebih dari 24 jam berada di dalam bis, beuh!

Akhirnya saya putuskan berangkat tanggal 30 Desember 2017, booking hotel di daerah Jakarta Pusat melalui salah satu aplikasi pemesanan hotel di smartphone dan menghabiskan malam tahun baru di ibukota, hari senin awal tahun baru balik lagi ke Solo.

Sudah lama ingin kembali merasakan sensasi naik jet darat PO Haryanto, bis yang juga dikenal di kalangan bismania sebagai Artis Pantura ini memang sudah terkenal dengan kecepatannya.

Seperti biasa sebelum membeli tiket, saya survei dulu ke terminal-terminal terdekat. Tirtonadi, Bejen, Kartasura, Sukoharjo, dan Wonogiri. Dan ternyata oh ternyata, armada terbaru dari PO Haryanto SHD hanya untuk keberangkatan dari Wonogiri dan Sukoharjo saja. Aih! Sempat bimbang, di satu sisi pengen merasakan armada baru SHD, di sisi lain kedua terminal itu letaknya cukup jauh dari rumah saya.

HR100

Demi SHD saya putuskan naik dari terminal Sukoharjo. Tapi ternyata hot seat incaran saya sudah terisi (padahal saya pesan seminggu sebelum keberangkatan) barisan depan yang tersedia tinggal 2 CD. Dan yang membuat saya yakin untuk membatalkan, karena bis yang berangkat dari Sukoharjo berangkat jam 1 siang. Dengan pertimbangan check-in di hotel jam 2 siang keesokan harinya, pasti bakal nunggu kelamaan. Dengan asumsi jalanan normal, kalau ikut dari Sukiharjo ini berarti sampai Jakarta jam 12 malam atau paling lambat jam 2 dini hari. Lah, terus mau ngapain nunggu lebih dari 12 jam sebelum ke hotel?

Akhirnya saya geser ke Terminal Tirtonadi, dan tiket untuk 1A sampai sampai 1D masih tersedia, keberangkatan jam setengah tiga sore. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung saya tebus 2 lembar tiket 1AB seharga @Rp180.000. Ketika saya menanyakan kenaikan tiket karena masuk high season, agennya menjawab "untuk hari ini 180 dulu aja, Mas. Nanti kalau naik menyesuaikan, tinggal nambah aja." Oke, pas hari H keberangkatan hanya naik 10 ribu menjadi Rp190.000.
Tiket

Sabtu, 30 Desember 2017

14.00 Tiba di Terminal Tirtonadi menggunakan taxi online karena hujan deras, padahal rencana semula naik motor.
Langsung disambut Mas Eko agen resmi dari PO Haryanto dan menginformasikan kenaikan harga tiket sebesar 10 ribu. Jadi saya nambah 20 ribu untuk 2 lebar tiket. Mas Eko juga menambahkan nanti langsung aja naik nomor 100, nggak perlu pindah bis di garasi Bangak. Karena sore itu jatah bis yang masuk Tirtonadi jurusan Gemolong-Solo-Jakarta (Tj. Priok) sesuai jurusan saya. Urusan tiket sudah beres, segera saya bergegas menuju ke ruang tunggu. Cukup lama menunggu, karena masa liburan sekolah, jalanan pasti macet.

04.50 Akhirnya Haryanto dengan nomor 100 (selanjutnya akan saya tulis HR100) tiba di terminal Tirtonadi dari Gemolong. Tidak lama berhenti, karena hanya sedikit penumpang yang naik dari Tirtonadi.

14.54 Take-off dari Tirtonadi
Tirtonadi menuju Manahan keadaan jalan padat merayap, driver pinggir Mas Bambang membawa bis dengan santai dengan sesekali membunyikan klakson. HR100 dilengkapi 2 klakson. satu semi telolet satunya lagi klakson standar.
Oh iya, armada HR100 ini belum disertai nickname seperti kebanyakan armada Haryanto lainnya, seperti: Tirtonadi, Pelukis Malam, California dll.

15.19 Terminal Kartasura
Tidak berhenti lama di sini, karena hanya 2 penumpang yang naik.

15.29 Garasi Bangak
Di sini banyak penumpang yang pindah armada lain, menyesuaikan tujuan mereka. Kurang lebih 30 menit berhenti di sini, saya sempatkan makan dulu.

16.03 Berangkat dari Bangak
16.32 Terminal Boyolali
Tidak masuk, hanya lewat karena tidak ada penumpang. Jalan dari Boyolali macet gila, padat merayap. Di sini Mas Bambang menunjukkan skill-nya, dengan lincah dan sesekali membuka jalur melewati kerumunan kendaraan lainnya. Nampak, di depan Laju Prima juga membuka jalur.
Laju Prima buka jalur, diikuti HR100

Sesekali mendapat "hadiah" umpatan dari pengemudi di arah berlawanan, tapi Mas Bambang hanya tersenyum manis 😃
Sebelum masuk Sruwen, pramugara Mas Sutris sempat menghubungi agen Sruwen meminta penumpang untuk naik dari tepi jalan raya, mengingat kondisi jalan yang macet parah. Lokasi Terminal Sruwen ini agak masuk ke dalam dari jalan raya, sekitar 500 meter. Jadi mungkin untuk menghemat waktu, pramugara meminta penumpang untuk menunggu di jalan raya.
Tidak terlalu jelas percakapan mereka, yang jelas HR100 tetap masuk ke dalam terminal Sruwen.

Keluar dari Sruwen masih macet, telolet dari Mas Bambang semakin sering terdengar. Klakson dan dangdut koplo dengan biduan cantik yang wajahnya mirip mantan saya, Mbak Nella Kharisma sungguh menjadi kombinasi yang cocok 😍

18.12 Terminal Tingkir
Driver tengah Mas Ramadhani masuk dan langsung menuju bangku paling belakang, menghimpun tenaga (tidur) untuk nanti menggantikan driver pinggir.
Lepas Tingkir, pramugara mulai membagikan snack, sebuah roti dan air mineral gelas.

18.50 Terminal Bawen
Lepas dari Bawen tepatnya di daerah Bergas, HR100 nyaris bersenggolan dengan truk. Untung Mas Bambang dengan sigap bisa segera menguasai keadaan.

19.20 Ungaran
19.44 Banyumanik
Setalah Banyumanik, HR100 tidak lantas belok kanan menuju tol seperti kebanyakan bis-bis lain. Tapi lurus arah masuk ke kota.

20.07 Gerbang Tol Manyaran
Keluar dari tol, Krapyak hanya lewat karena tidak ada penumpang.

20.17 Opera Vantura
Yosh! Inilah saat yang ditunggu-tunggu, melintasi jalur Pantura dan mulai bertemu dengan bis-bis Muriaan dan juga bis dari arah Surabaya via utara seperti Karina.
Sebelum terminal Mangkang, bis Muriaan yang mempunyai warna kebesaran hitam yaitu Bejeu menjadi "korban" pertama HR100.

Tanpa perlawanan berarti, bis dengan kombinasi warna hitam dan kuning ini menyerah, HR100 melakukan overtake dari sisi kiri.
Overtake Bejeu
Tidak jauh di depan Bejeu, giliran Nusantara dibabat!
Overtake Nusantara
20.39 Masuk wilayah Kendal
Duo Bejeu menghadang di depan. Kali ini pertarungan lumayan sengit, duo bis hitam ini tidak mau begitu saja memberi jalan. Overtake bis pertama di tikungan dari sisi kiri juga, bis kedua mengalah karena dia terhambat sebuah mobil kecil yang mau belok ke kanan.
Duo Bejeu
Tapi tidak butuh waktu terlalu lama bagi HR100 untuk melibas kedua bis ini.
Duo Bejeu selesai, di depan ada satu lagi yang juga merupakan salah satu "Jawara Pantura" Shantika. Tapi belum sempat melakukan akselerasi, HR100 sein kiri, tanda mau masuk SPBU.

20.57 SPBU Jenarsari
SPBU ini milik PO Haryanto juga, jadi mungkin salah satu alasan kenapa PO Haryanto berani ngeblong karena bisa dibilang "solar tidak beli". Tidak seperti PO lain yang solarnya dijatah dari perusahaan, jadi kalau mau ngebut otomatis menambah konsumsi bahan bakar, nombok uang pribadi.
SPBU Jenarsari
Ada puluhan bis Haryanto yang mengisi solar di sini, baik yang dari arah timur maupun dari arah barat. Bagi yang suka hunting foto bis, silakan mampir ke tempat ini.

22.05 Rumah Makan Menara Kudus
Seperti halnya SPBU tadi, rumah makan ini juga milik PO Haryanto. Menunya cukup bervariasi, ada nasi goreng, soto dll.
Nasi gorengnya cukup enak, selama saya singgah di RM khusus bis malam, RM Menara Kudus inilah yang terbaik menurut saya.
Saking enaknya nasgor di sini, mbak-mbak di sebelah saya langsung ngorok sehabis makan ketika bis baru berjalan beberapa meter.
Suasana RM Menara Kudus
Nasi goreng dengan telor ceplok dan kerupuk
Tidak lama berhenti di sini, rokok belum habis sebatang petugas sudah memanggil penumpang HR100 dari pengeras suara.

22.29 Lepas RM Menara Kudus
Driver Mas Ramadhani mengambil alih kemudi. Agak kaku sih pertama, apalagi jalan menanjak. Masukin gigi persneling agak keras, ternyata baru pertama megang HR100, biasanya bis jurusan Madura-Jakarta.
Tidak butuh waktu lama buat driver kedua ini untuk beradaptasi, jalan berapa kilometer sudah gas lagi.

Sebelum tol Brebes, sempat mendapat perlawanan sengit dari Kramat Djati. Sayangnya di pertigaan Kramat Djati ambil jalan lurus, sementara HR100 belok kiri masuk tol.

00.48 Tol Brebes
Masuk tol Brebes, ada 3 bis yang menepi. Rosalia Indah, Raya, dan Sindoro Satriamas. Di jalan tol ini, laju HR100 semakin tak terhenti. Banyak bis yang dilewati tanpa ampun, rata-rata driver mengambil dari sisi kiri.

01.40 Tol Cipali
Di sini sempat mendapat perlawanan dari Sudiro Tungga Jaya, sebelum STJ menuju ke rest area. Menurut informasi yang saya dapat, jika STJ mampu mengasapi Haryanto, maka driver dapat tambahan bonus.
Top Speed yang sempat terekam pada aplikasi smartphone saya, HR100 tembus 121 km/jam di Tol Cipali ini.
Akhirnya Shantika berhasil diasapi juga.
Overtake Shantika

02.50 KM 84
Menurunkan penumpang tujuan Cikopo.

03.36 Tol Cikarang Barat

04.10 masuk Terminal Pulogebang
Banyak yang turun di sini, dan ini pertama kalinya saya masuk terminal Pulogebang.

Lepas Pulogebang ada kejadian unik yang membuat saya ngakak, driver kedua nggak tahu jalan ke Tanjung Priok! 😅
Akhirnya Mas Bambang tampil ke depan sebagai pemandu. Ada lagi kejadian lucu, di pertigaan ada bis di depan, Mas Bambang memberi kode dengan tangan bergerak ke kiri (maksud dia untuk menyalip bis di depan) lah driver kedua salah paham, dia malah belok kiri, aduh! 😀

04.46 Masuk Tanjung Priok
Akhirnya sampai di tujuan akhir.

Interior

Interior

Dashboard

Spesifikasi Bus

Bus: PO Haryanto
Mesin dan chasis: Hino RK260
Tahun perakitan: 2015
Bodi: Jetbus HD2
Karoseri: Adiputro
Nomor bus: 100
Nomor polisi: B 7099 VGA
Jurusan: Gemolong-Solo-Jakarta (Tj Priok)
Kelas: Eksekutif
Tiket: Rp190.000 (Desember 2017)
Waktu tempuh: kurang lebih 14 jam (termasuk berhenti makan, isi solar dll)
Fasilitas: AC, TV, DVD, recleaning seat, sandaran kaki, toilet, bantal, selimut, snack, makan prasmanan 1x
Kapasitas tempat duduk: 34 kursi

Penilaian Penulis

(+) Kecepatan
(+) Kru ramah
(+) Servis makan enak

(-) Tempat duduk sempit

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Perjalanan PO Haryanto 100 (HR100) Solo-Jakarta (Tanjung Priok)"

Posting Komentar