Catatan Perjalanan Kereta Api Lodaya Pagi Solo-Bandung

Ini pertama kalinya saya menulis catatan perjalanan kereta api, biasanya bus. Mohon maaf sebelumnya bila dirasa tulisannya masih acak-acakan atau kurang informatif 😉


Sebenarnya sudah cukup sering menggunakan jasa kereta api, mulai dari kereta barang di masa kecil, di daerah saya orang biasa menyebutnya dengan sepur grenjeng. Kereta ekonomi subsidi dengan konfigurasi tempat duduk 2-3 (Kahuripan), ekonomi non-subsidi (Gajahwong, Joglokerto), hingga kasta teratas di kelas ekonomi yaitu premium (Gaya Baru Malam Premium -sekarang Jayakarta Premium-, Wijaya Kusuma).

Kereta kelas bisnis Senja Utama Solo, Sancaka, Lodaya juga pernah saya rasakan. Yang terakhir kelas tertinggi di jajaran perkeretaapian Indonesia, yaitu eksekutif. Argo Dwipangga, Argo Wilis, hingga yang paling berkesan dan merupakan kereta api tercepat di Indonesia, Argo Bromo Anggrek pernah menemani perjalanan saya yang penuh liku ini *halah 😝


Sebagai informasi, penamaan kereta api di Indonesia berdasarkan kelas:

  1. Ekonomi = Sungai (Bengawan, Brantas, Progo dll)
  2. Bisnis/Eksekutif = Satwa (Lodaya, Sancaka dll)
  3. Eksekutif = Gunung (Argo Lawu, Argo Sindoro, Argo Bromo dll)
Istilah "apalah arti sebuah nama" sepertinya tidak berlaku dalam hal ini, PT KAI tidak sembarangan memberi nama kereta.

Kali ini saya akan berbagi cerita perjalanan menggunakan salah satu kereta satwa, Lodaya Pagi. Yaitu campuran kelas bisnis dan eksekutif.
KA Lodaya

Saya memilih membeli tiket bisnis, dengan alasan selain harga lebih terjangkau dibanding eksekutif di kisaran harga Rp300.000. Alasan utama kenapa saya pilih kelas bisnis lebih karena sudah lama tidak naik kereta ini dan juga penasaran kenapa harga tiket kelas bisnis bisa lebih mahal dibanding bus kelas eksekutif dengan tujuan dan jarak yang sama.

Menurut saya, fasilitas yang ditawarkan bus kelas eksekutif lebih lengkap dibanding kereta bisnis, di antaranya: Reclening seat, service makan, smooking area, dan ini yang terpenting bagi saya, pemandangan sepanjang perjalanan. Karena rata-rata setiap bus malam lampu dalam dimatikan ketika perjalanan. Nilai plus kereta api dibanding bus adalah ketepatan waktu.

Oke, langsung saja saya mulai cerita kali ini. Di awali dengan membeli tiket di salah satu marketplace ternama seharga Rp215.000 dengan cashback 15%. Keesokan harinya saya check-in (mencetak tiket) di Stasiun Balapan.
Boarding Pass
Sabtu, 05 Mei 2018
05.30 Berangkat dari rumah
Mampir sarapan nasi liwet di warung langganan sekitar Pasar Gede, tidak lupa juga membawa sebungkus untuk bekal makan siang nanti 😃

06.15 Sampai Terminal Tirtonadi
Sengaja saya menitipkan motor karena biaya parkir di sini lebih murah, hanya Rp3000 per tanggal. Kalau parkir di stasiun bisa berlipat-lipat harganya.
Akses menuju Stasiun Balapan dari Terminal Tirtonadi bisa lebih mudah lewat sky bridge, buka dari jam 6 pagi sampai jam 6 malam. Dengan jarak hanya sekitar 800 meter dan waktu tempuh kurang dari 30 menit.
Sky Bridge
Di jembatan ini juga kita melakukan boarding, jadi ketika turun nanti bisa langsung menuju kereta api sesuai tiket.
Pemandangan dari Sky Bridge
06.40 Sampai di Stasiun Balapan
Dan tempat yang saya tuju pertama kali adalah smooking area!
Ternyata di dekat peron 5 sudah dibangun smooking area yang baru, jadi sekarang ada 2 tempat yang dikhususkan bagi para perokok ini. Semuanya terletak di dekat jalur 5.

06.47 Rangkain Lodaya Pagi masuk di jalur 5
Lodaya Pagi langsir di jalur 5
Para penumpang bergegas masuk ke dalam kereta, saya masih sibuk menyiksa paru-paru dengan menghabiskan 2 batang rokok 😎

07.05 Terdengar suara wanita dari pengeras suara, "lima menit lagi kereta api Lodaya Pagi tujuan Bandung segera diberangkatkan, bagi para penumpang bla bla..."
Dan saya masih berada di smooking area bersama seorang pria paruh baya dari Sragen. basa-basi sedikit, ternyata dia duduk di kursi 7A, berdekatan dengan saya di 9A
Rokok sudah habis, saya dan bapak tadi segera masuk kereta, menyusul penumpang lain.

07.10 Berang-berang makan kawat, berangkat!
Tepat pada waktunya, kereta api Lodaya Pagi diberangkatkan dari Stasiun Balapan. Kesan pertama saya merasakan interior kereta bisnin ini: tua!
Interior

Dengan tempat duduk dan sandaran tangan yang masih empuk, AC split berjumlah 8 unit, cukup nyaman lah.
Lumayan banyak penumpang dari Stasiun Balapan ini, tapi tidak sampai penuh.

07.14 Purwosari (langsung/ls)
07.27 Ceper (ls)
07.36 Klaten (2 menit)
Cukup banyak penumpang yang naik dari Stasiun letaknya berada di depan Terminal Ir. Soekarno ini.
Stasiun Klaten
07.45 Srowot (ls)
07.49 Brambanan (ls)
07.55 Maguwo (ls)
08.03 Lempuyangan (ls)
08.07 Stasiun Tugu
Sekitar 5 menit KA Lodaya Pagi berhenti di Stasiun terbesar Kota Jogja Berhati Mantan ini. Banyak juga penumpang yang naik dengan tujuan Bandung atau kota-kota lainnya seperti Banjar, Tasik.
Stasiun Tugu
08.28 Sentolo (ls)
08.39 Wates (berhenti 2 menit)
08.52 Mojo (ls)
09.10 Kutoarjo (3 menit)
Pertama kalinya saya turun untuk mencari kesempatan merokok, dan... . hanya dapat kesempatan menghisap 1/4 batang rokok sudah terdengar suara dari speaker kereta akan segera diberangkatkan lagi.
Stasiun Kutoarjo

09.30 Kuthowinangun (ls)
09.37 Berhenti di Kebumen selama 2 menit
Lepas dari Stasiun Kebumen ini kereta melaju kencang dan tanpa hambatan untuk berhenti. Cacing di perut sudah meraung-raung tanda minta diisi nasi liwet 😄Susah juga makan di kereta dengan menu nasbung, kuah sayur sempat tumpah sedikit.

09.59 Terowongan Ijo
Salah satu terowongan kereta terpanjang di Indonesia.

10.17 Kroya (ls)
Di sinilah berpisahnya antara jalur menuju Bandung dan Jakarta (Purwokerto,Cirebon). Jika arah menuju ke Bandung mengambil jalur lurus, ke Jakarta belok ke kanan.

10.24 Sikampuh (ls)
10.29 Laos (ls)
10.36 Lebeng (ls)
10.47 Kawunganten (ls/kres KA ekonomi)
11.11 Sidareja (berhenti 2 menit)
Ketika saya mau turun untuk merokok, di bordes ada petugas keamanan kereta. Dia mengatakan sebentar lagi kereta akan berhenti cukup lama, di Stasiun Meluwung karena kres.
11.20 Cipari (ls)

11.28 Meluwung
Dan benar saja apa yang dibilang petugas tadi, Lodaya Pagi berhenti cukup lama di sini. Banyak penumpang yang turun, terutama para pecandu rokok untuk melampiaskan hasrat mengepulkan asap.
11.41 Lodaya Pagi Bandung-Solo melintas
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. soulmate dari kereta yang sayaa tumpangi ini melintas dengan kecepatan penuh.
Lodaya Pagi dari Bandung
11.42 Berangkat dari Meluwung
Tidak lama setelah Lodaya Pagi melintas, kereta yang saya tumpangi diberangkatkan kembali.
11.53 Langen (ls)

12.04 Banjar
Banyak penumpang yang naik-turun di stasiun ini. Kereta berhenti cukup lama karena harus menunggu Argo Wilis dari arah Bandung. Dan seperti biasanya, saya kembali merokok. Kali ini cukup sebatang, karena kereta hanya berhenti kurang lebih 10 menit.
Stasiun Banjar

12.13 Take-off Banjar

12.29 Bojong (ls)
12.37 Ciamis (ls)
Cukup banyak sebenarnya penumpang dengan tujuan Ciamis. Tapi karena Lodaya tidak berhenti di stasiun Ciamis, beberapa penumpang memilih turun di Stasiun Banjar atau bahkan ada yang turun di Tasikmalaya.
12.49 Manonjaya (ls)
12.58 Tasikmalaya
Hanya 3 menit berhenti di Stasiun terbesar kota asal pebulutangkis putri Indonesia peraih medali emas Olimpiade, Susi Susanti.

13.25 Ciawi (ls)
13.34 Cirahayu (ls)

13.46 Cipenduy
Berhenti lama di stasiun yang masuk Kabupaten Garut ini. Banyak penjual tahu Sumedang dan kopi panas dari balik jeruji besi, berasa di penjara penjualnya 😅
Cukup murah jajanan di sini, tahu Sumedang dijual Rp5.000, kopi panas Rp5.000 juga, setidaknya lebih murah dari restorasi lah 😁

13.55 Take-off Cipenduy
Dari sini kereta mulai berjalan lambat, karena melewati perbukitan dan jalannya berkelok. Jadi penumpang di tengah bisa melihat lokomotif dan gerbong paling belakang.
Salah satu jalur terindah yang dilewati kereta api Indonesia, antara Cipenduy sampai Stasiun Bandung.
Melewati perbukitan

Ekor kereta terlihat jelas
14.06 Bumiwluya (ls)
15.11 Nagreg (ls)
Lepas Nagreg, jalur mulai agak landai.

15.23 Cicalengka (ls)
15.37 Cimkar (ls)
Kres kereta ekonomi, Serayu (mungkin?)
15.45 Kiara Condong
Stasiun terbesar kedua di Bandung, banyak penumpang turun.

15.55 Well done, Stasiun Bandung!
Hanya terlambat 7 menit dari jadwal 15.48.
PT Kai sugoi!
Stasiun Bandung

Penilaian Penulis

(+) Nyaman
(+) Lega
(+) Tepat waktu
(+) Petugas kereta ramah

(-) Gerbong tua, sudah saatnya regenerasi
(-) AC kurang dingin
(-) Tidak ada ruangan khusus untuk merokok 😎, subjektif banget ini mah!

Semoga bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Perjalanan Kereta Api Lodaya Pagi Solo-Bandung"

Posting Komentar