Tektok Kabur ke Ujung Timur Pulau Jawa

Memasuki bulan puasa, kegiatan saya banyak berkurang. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dan mumpung belum terlalu ramai juga, akhirnya saya mencoba keluar dari zona nyaman dengan cara traveling yang belum pernah saya jalani sebelumnya.
Tujuan saya kali ini adalah kota paling timur di Pulau Jawa, Banyuwangi.

Pelabuhan Ketapang


Tektok!
Ya, perjalanan ke suatu tempat (biasanya ke luar kota atau gunung) kemudian pulang pada hari itu juga. Dari beberapa sumber yang saya baca, tektok diambil dari istilah permainan biliar ketika bola cue tidak menyentuh langsung bola sasaran, tapi mengenai pinggir meja biliar terlebih dahulu. Bahasa sederhananya "memantul". (koreksi kalau salah) Sumber: Alam Tradisional


Rencana semula dari Solo naik Kereta Api Sri Tanjung atau yang dulu dikenal dengan nama kereta Argopuro, relasi Lempuyangan (Yogyakarta) - Banyuwangi. Atau opsi kedua, naik bus Mila Sejahtera kelas AC Tarif Biasa.
Seperti biasa, sebelum memutuskan membeli tiket, browsing dulu di aplikasi. Tiket Sri Tanjung murah meriah hanya Rp94.000, tapi lama perjalanan 13 jam, WOW! Nggak kebayang duduk di dalam gerbong berkapasitas 100 penumpang lebih dan tanpa ruangan merokok selama 13 jam. Fyi: kereta Sri Tanjung ini termasuk kelas ekonomi bersubsidi, jadi konfigurasi tempat duduk 3-2, lutut ketemu lutut adalah hal yang biasa terjadi ๐Ÿ˜„. Rencana ini saya BATALKAN! Dengan pertimbangan bakalan tersiksa selama perjalanan, dan lagi Sri Tanjung masuk Jember sampai Banyuwangi sudah malam. Dari artikel yang pernah saya baca, track antara Jember-Banyuwangi ini pemandangannya bagus, terutama di sepanjang Alas Purwo.

Lanjut rencana kedua: Mila Sejahtera. Dengan jarak yang hampir sama dengan Solo-Jakarta, saya rasa naik bus AC biasa bukanlah keputusan yang bijak. Walaupun harga tiket bus ini murah meriah Rp100.000 dibanding bus eksekutif tujuan Bali (ke Banyuwangi tetap dihitung harga ke Bali) di kisaran harga antara Rp250.000 sampai Rp280.000.
Dan rencana ini saya CORET juga.

Browsing lagi, akhirnya ketemu solusi jitu, Kereta Api Mutiara Timur. Kebetulan untuk kelas eksekutif sedang ada promo Rp100.000 untuk rute Surabaya Gubeng - Banyuwangi. Masih ditambah lagi promo cashback 15% di marketplace andalan. Akhirnya booking tiket kereta yang berangkat dari Stasiun Gubeng jam 9 pagi ini.
Bingung juga dari Solo mau naik apa? Penginnya sih naik bus, tapi jarak antara Terminal Bungurasih ke Gubeng jauh, mending naik kereta yang langsung ke Gubeng.
Browsing lagi, ketemu kereta yang dari Solo sampai Gubeng pagi, Jayakarta Premium dengan tiket Rp140.000 cashback 15%.

Minggu malam, 27 Mei 2018
Stasiun Balapan, menunggu Jayakarta Premium.

Stasiun Balapan (SLO)

23.20 Yang ditunggu datang juga, molor 10 menit dari jadwal semula 23.10. Ada hal yang kurang mengenakkan di sini, salah pilih tempat duduk! Pengalaman saya naik kereta, nomor kursi dihitung dari BARAT, jadi kalau perjalanan ke timur, pilih nomor kecil (1-12), saya pilih kursi 9B, zonk! Ternyata kebalik, jadi menghadap ke belakang arah berjalannya kereta ๐Ÿ˜Ternyata kereta ini nomor kecil terletak di sebelah timur.
Boarding Pass Jayakarta Premium
Untuk kereta tidak banyak penumpang, jadi bisa pindah ke bangku yang kosong bisa tidur.
Interior Jayakarta Premium

Tepat jam 4 pagi kereta tiba di Stasiun Gubeng.
Karena bulan puasa, suasana di Gubeng cukup ramai orang-orang habis makan sahur. Tidak berapa lama terdengar adzan Subuh.
Jayakarta Premium tiba di Stasiun Gubeng (SGU)

Bingung juga cari tempat untuk mandi, di stasiun ini ada larangan untuk mandi. Cek google maps, SPBU hanya beberapa ratus meter dari Gubeng. Tanpa pikir panjang langsung menuju ke SPBU sesuai petunjuk dari google maps.
SPBU di dekat Gubeng

06.30 Kembali lagi ke Stasiun Gubeng dengan kondisi yang lebih fresh
08.00 Boarding
Beda dengan Stasiun Balapan yang memperbolehkan calon penumpang masuk ke peron 3 jam sebelum kereta berangkat, di stasiun Gubeng 1 jam sebelumnya baru boleh masuk.

08.41 Mutiara Timur tiba di Gubeng dari Stasiun Surabaya Kota (Semut)
KA Mutiara Timur

Banyak juga penumpang dengan tujuan Banyuwangi dan sekitarnya. Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali! Salah pilih lagi, kali ini dapat gerbong paling belakang, karena saya pesan tiket eksekutif 4, perkiraan dapat gerbong di tengah dekat restorasi, ternyata melesat jauh ke belakang ekekekek ๐Ÿ˜
Boarding Pass Mutiara Timur


09.00 Tepat pada waktunya, Mutiara Timur diberangkatkan dari Stasiun Gubeng
Walau hanya tiket eksekutif promo, tapi kereta ini menurut saya sangat nyaman. Kursi lega, AC juga pas, tidak terlalu dingin atau panas, hanya saja goncangan yang masih sangat terasa, mungkin karena gerbong yang sudah berumur.
Interior KA Mutiara Timur


12.15 Stasiun Tanggul, kres dengan Mutiara Timur dari Banyuwangi
12.45 Stasiun Jember
Banyak penumpang yang turun, berhenti cukup lama juga karena menunggu kereta Pandanwangi rute Banyuwangi - Jember.
Kres KA Pandanwangi

Selepas Stasiun Jember ini pemandangan sepanjang perjalanan mulai memanjakan mata, mengalahkan rasa kantuk. Membelah Alas Purwo yang penuh dengan berbagai macam jenis pohon,  melewati dua terowongan, keren lah pokoknya. Pengalaman pertama kali melintasi jalur ini. Saya bisa katakan, perjalanan dengan Mutiara Timur ini yang terbaik sepanjang trip ke Banyuwangi.

15.20 Tepat waktu sesuai jadwal, Mutiara Timur Pagi tiba di Stasiun Banyuwangi
Stasiun Banyuwangi Baru (BW)

Langsung menuju pintu keluar,  jalan kaki menuju Pelabuhan Ketapang. Menunggu bus Restu Mulya tujuan Jogja yang tiket sudah saya pesan melalui aplikasi. Tidak begitu jauh menuju pelabuhan, ada beberapa kamar mandi umum dan juga warung makan. Saya sempatkan mampir di Rumah Makan Padang, dan mandi di seberang RM Padang ini.
Cukup murah biaya hidup di sini menurut saya, satu porsi masakan padang Rp25.000, mandi Rp3.000.


Selesai makan dan mandi, lanjut Pelabuhan Ketapang.

Sambil nunggu telepon dari kru Restu Mulya, kata kantor pusat nanti kalau sudah sampai Negara (Gilimanuk) akan dihubungi.


Di sini ada sedikit masalah, di E-tiket saya tertera bus berangkar dari Banyuwangi jam 19.30. Tapi ketika saya mampir ke agen bersangkutan, katanya bus biasa masuk agen Banyuwangi jam 17.00 paling lambat jam 17.30, aduh!
E-tiket

Jadi nggak fokus motret kapal-kapal feri yang menghiasi Selat Bali. HP nggak bisa jauh-jauh dari tangan, takut kalau kru bus telepon nggak terdengar. Mondar-mandir sambil cek HP, nggak ada panggilan masuk. Akhirnya saya menunggu di agen.

18.15 Restu Mulya keluar dari pelabuhan
Dan benar saja, akhirnya bus yang saya tunggu datang jauh sebelum waktu yang tertera di E-tiket, selisih satu jam lebih.
Bus berhenti di agen, saya tanya ke kru "Jogja, Mas?" dia jawab "Iya, Masnya saya hubungi dari tadi nggak bisa" sambil nunjukin daftar menumpang beserta nomor telepon yang bisa dihubungi. Btw, nomor HP saya sudah terveritifikasi di aplikasi pemesanan tiket sejak lama.
BINGO! Kantor Pusat Restu lama ngasih nomor HP kurang satu angka, yang harusnya 081 1280 xxxx mereka tulis 081280xxxx, lah sampai Lebaran juga nggak bakalan nyambung.

Mohon untuk jajaran pengurus Restu Mulya untuk lebih teliti lagi ke depannya, karena hal seperti ini bisa sangat merugikan calon penumpang. Oke walaupun ada jaminan tiket akan dikembalikan 100% dari aplikasi pemesanan tiket yang saya gunakan, jika itu bukan kesalahn dari calon penumpang.
Tapi bagaimana dengan waktu dan tenaga yang terbuang? Harus cari bus lain yang belum jelas juga. Oh iya, harga tiket dari Banyuwangi ke Jogja sama dengan Denpasar-Jogja. Harga normal Rp280.000 promo dari aplikasi pemesanan tiket jadi Rp247.500.

Bus langsung meninggalkan Pelabuhan Ketapang setelah saya masuk. Cukup lega kursinya, walaupun tidak selega PO sebelah. Ketika saya hitung baris kursi, ada 7 baris. Selimut tebal dan laju bus cukup kencang saat membelah Alas Purwo di kegelapan malam.
Membuntuti Akas Asri yang licin, ditambah jalur di hutan ini sempit, menyulitkan driver dalam melakukan aksi overtake.

21.00 Servis makan di RM Ayu Lestari, Situbondo
Menu standart tempe kering dan telor/ayam.
Nasi kering tempe + telor


Lepas dari rumah makan, saya banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Saat sahur, bus berhenti di rumah makan daerah Nganjuk. Tapi saya tetap bertahan di dalam bus saking ngantuknya.
Bangun di Madiun, tidur lagi. Masaran terbangun sampai di tujuan akhir bus ini.

08.12 Masuk Terminal Giwangan

Istirahat sebentar, mandi. Lanjut sarapan mie ayam Tumini yang terkenal dan ramai pengunjung tiap harinya

Selesai sarapan lanjut ke Tamansari menggunakan Trans Jogja dengan tarif Rp3.500. Tidak terlalu lama mengunjungi wisata budaya di Kota Gudeg ini, kembali lagi ke Giwangan.
Tamansari

Dan akhirnya kisah ini diakhiri dengan perjalanan Jogja menuju Solo menggunakan bus Eka Cepat dengan tarif Rp15.000 bonus air mineral 600 ml.
Tiket Eka Cepat

Semoga bermanfaat dan selamat berpetualang!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tektok Kabur ke Ujung Timur Pulau Jawa"

Posting Komentar